PENGABDIAN MILENIAL ALUMNI SEKOLAH MUHAMMADIYAH

By | 24/04/2020

PENGABDIAN MILENIAL ALUMNI SEKOLAH MUHAMMADIYAH

Oleh : Afnan Hadikusumo

Kalau pak Dahlan Iskan menceritakan anak milenial bernama Ahmad Alghozi Ramadhan yang berhasil menciptakan aplikasi tracking Covid-19 dengan nama “FightCovid19.id”, tanpa bayaran alias gratis. Saat ini digunakan di propinsi Bangka Belitung.

Maka di Yogya ada juga sosok dengan semangat mirip Alghozi. Namanya Dhea, seorang gadis muda lulusan FEB-UGM dan Master di Sheffield University Inggris jurusan ilmu informatika. Alumni SD Muhammadiyah Sapen dan SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta tersebut, saat ini sudah membuat sistem pelaporan gugus mulai dari RT sampai ke pusat secara Real Time. Sebagai bentuk sumbangsihnya kepada negara, program ini diberikan secara cuma-cuma.

Program yang dikembangkannya adalah sistem pelaporan kesehatan warga sampai dampak ekonomi di tiap RT nya. Menurut Tyas Enka ibunya Dhea : “UGM sebenarnya sudah minta program ini, tapi agak lambat dorongannya ke gugus”.

Ide pembuatan program ini karena keprihatinannya atas penanganan wabah Covid yang begitu lamban. Awalnya di tempat Dhea tinggal ada kasus positif covid tiga orang, tapi gugus kelurahan tidak memberikan info ke gugus RT, ini terjadi karena informasi gugus kelurahan tidak di update sama gugus Kecamatan. Untungnya orangtua Dhea koordinasi dengan gugus kelurahan sehingga masalahnya segera teratasi. Jika kejadian seperti ini dibiarkan terus dan tidak ada solusinya, akan banyak kasus positif cofid tidak terdeteksi, dampaknya penularan bisa meluas.

Sistem pelaporan dengan mengandalkan program IT tersebut memungkinkan bantuan sembako, APD, dan lain-lain menjadi lebih tepat sasaran. Karena sistem pelaporan yang dibuat Dhea akan melaporkan secara real time dari gugus RT sehingga data akan lebih detail, termasuk diketahuinya pembagian distribusi APD mana yg sdh cukup mana yg menipis sehingga manakala ada yang mau nyumbang APD jelas tujuannya di RS atau puskesmas mana yang masih membutuhkan.

Gugus tugas covid 19 itu sudah terbentuk sampai tingkat RT. Made Surawan (Ayah Dhea) kebetulan saat ini sebagai ketua gugus RT di wilayah Sleman Utara. Di RT itu sudah diberi form dari gugus yang isinya laporan pemudik eh maksudnya yang pulang kampung, dan sebagainya. Nah gugus RT ini harus melaporkan perihal covid-19 ke gugus dukuh naik terus sampai gugus pusat. Sementara gugus pusat hanya melaporkan data dari RS rujukan. Perlu diketahui, Made Surawan ini pernah terlibat bersama dengan Dr Gede Bayu Suparta dari Departemen Fisika FMIPA UGM Yogyakarta dalam pembuatan teknologi radiografi digital.

Persoalan yang dihadapinya adalah, gugus pusat sampai saat ini belum merespon hasil karya pengabdian anak bangsa yang diberikan secara gratis ini. Harapannya Muhammadiyah yang memiliki jaringan luas dapat memanfaatkan program yang dia buat untuk membantu penanganan wabah covid-19.

Indonesia membutuhkan para milenial dengan semangat pengabdian, bukan milenial yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Tinggalkan Balasan